Wisata Lumpur Lapindo



Hari raya idul fitri telah berlalu, kami sekeluarga pulang ke Surabaya tempat suami dilahirkan, dari Bekasi kami berangkat dengan kendaraan mobil APV, banyak suka dukanya dalam perjalanan pulang kampong. Macet dijalan bukan alasan untuk tidak pulang kampong memang itu seninya bermacet ria bersama pengemudik lainnya.
Setibanya di Solo waktunya makan sahur, kami sekeluarga mampir di warung makan Dapur - Solo, warung ini menyediakan menu makan prasmana alias ambil sendiri, andalan menunya adalah tengkleng, sop iga sapi, cukup murah harganya, banyak yang datang untuk makan sahur direstaurant ini.

Tiba di Surabaya kami melepas lelah setelah perjalanan jauh dengan sambutan yang luar biasa dari sanak saudara yang telah kangen karena 1 tahun sekali kami sekeluarga baru bisa bersilaturahmi.
Keesokal harinya kami berkunjung ke saudara yang ada di Malang, dalam perjalanan ke Malang kami mampir ke Lumpur Lapindo karena selama ini hanya bisa melihat dari televise keadaan lumpur lapindo, ternyata eh ternyata baru masuk sudah dikenakan tarif Rp 30.000,- sebagai tanda masuk parker dan disana setiap pengunjung disodorkan CD lumpur Lapindo seharga Rp 15.000,-. Apakah ini ajang Bisnis Baru ???  
Untuk naik ke atas lumpur lapindo harus melalui tangga yang terjal, udah gitu … udaranya panas full banget  … !!! Kini rumah penghuni disana tinggal kenangan saja, tersisakan lumpur lapindo yang telah kering dan merata. Siapa yang akan bertanggung jawab atas kejadian ini semua ???
Yuk … kita simak lagu Ebiet G Ade J
Perjalanan ini
Trasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk
Disampingku kawan
Banyak cerita
Yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan
Tubuhku terguncang
Dihempas batu jalanan
Hati tergetar menatap
kering rerumputan
Perjalanan ini pun
Seperti jadi saksi
Gembala kecil
Menangis sedih …
Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika dia kutanya mengapa
Bapak ibunya tlah lama mati
Ditelan bencana tanah ini
Sesampainya di laut
Kukabarkan semuanya
Kepada karang kepada ombak
Kepada matahari
Tetapi semua diam
Tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri
Terpaku menatap langit
Barangkali di sana
ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar